asal usul tradisi meron
Sejarah
panca311
Pertanyaan
asal usul tradisi meron
2 Jawaban
-
1. Jawaban Hanichu
Sejarah, legenda, dan asal mula tradisi Meron dilatari pada masa pemerintahan Sultan Agung sebagai penguasa Mataram yang saat itu menyerang Pati saat dipimpin Adipati Pragola.
Sebagai demang di Sukolilo, Ki Suta Kerta yang memiliki kakek dan leluhur di Mataram ia ditugaskan untuk mengabdi di Pati. Sementara itu, saudaranya yang bernama Sura Kadam memilih untuk mengabdi di Mataram. Saat perang pecah berlangsung dan Pati berhasil ditaklukkan Mataram, Sura Kadam menengok saudaranya di Sukolilo.
Mengetahui prajurit Mataram menuju Sukolilo, Sura Kerta ketakukan khawatir ditangkap. Seketika, saudaranya tadi menjelaskan bahwa kedatangannya hanya untuk menjenguk, silahturahmi, dan ingin beristirahat. Dari sini, Sura Kadam terlibat dalam perbincangan dan mengusulkan agar warga Sukolilo mengadakan upacara sekaten untuk memperingati dan menghormati hari lahirnya Nabi Muhammad Saw sekaligus menghibur rakyat.
Sontak, penduduk menyambutnya dengan riang dan gembira. Dari sini, tradisi sekaten yang selalu ditandai dengan adanya gunungan yang diarak disebut dengan meron yang artinya rame dan iron atau tiron. Sementara iron berarti tiruan. -
2. Jawaban Rezanurrachman
Pati dan Mataram mempunyai hubungan kekerabatan yang baik.[2]Mereka sepakat mengembangkan Islamyang subur dan menentang setiap pengaruh kekuasaan asing.[2] Banyak pendekar sakti mataram yang didatangkan ke Pati untuk melatih keprajuritan.[2] Karena itu mereka harus tinggal berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun di Pati.[2] Ada seseorang bernama Ki Suta Kerta yang menjadi demang Sukolilo.[2] Meskipun ayah dan kakeknya berasal dari Mataram dia belum pernah mengenal bumi leluhurnya.[2] Tapi dia bersukur tinggal di Pesantenan karena kotanya juga makmur.[2] Sebaliknya saudara Ki Suta yang bernama Sura Kadam ingin berbakti pada Mataram.[2]Diapun pergi ke Mataram, ketika sedang bersiap menghadap Sultan, ada keributan.[2] Ada seekor gajahmengamuk dan telah menewaskan penggembalanya.[2] Sura Kadam pun berusaha mengatasi keadaan.[2] Dia berhasil menjinakkan gajah dan menunggaginya, dia diangkat menjadi punggawa Mataram yang bertugas mengurus gajah.[2] Suatu hari Sura Kadam bertugas memimpin pasukan Mataram menaklukkan Kadipaten Pati.[2] Setelah perang usai Sura Kadam pun menjenguk sudaranya di kademangan Sukalilo.[2] Demang Sura Kerta terkejut dan ketakutan.[2] Dia takut ditangkap dan diringkus.[2] Sura Kadam mengetahui hal itu dan menjelaskan bahwa maksud kedatangannya adalah untuk menyambung tali persaudaraan dan dia sudah membaktikan diri pada Mataram.[2] Dia minta izin supaya para prajurit diijinkan menginap di kademangan Sukolilo sambil menunggu saat yang tepat untuk kembali ke Mataram.[2] Sura Kadampun mengusulkan supaya mengadakan acara semacam sekaten untuk menghormati Maulud Nabi dan memberi hiburan pada rakyat.[2] Kemudian mereka membuat gelanggang keramaian seperti sekaten.[2] Rakyat menyambutnya dengan gembira. Karena itulah keramaian itu disebut meron yang berasal dari bahasa jawa rame dan iron-tiron-tiruan.[2]
Dalam arak-arakan acara tersebut, diiring beberapa gunungan yang sangat khas, karena terbagi menjadi tiga bagian.[3]
Bagian teratas adalah mustaka yang berbentuk lingkaran bunga aneka warna berisi ayam jago atau masjid.[3] Ayam jago menyimbolkan semangat keprajuritan, masjid merupakan semangat keislaman, dan bunga simbol persaudaraan.[3]Bagian kedua gunungan itu terbuat dari roncean atau rangkaian ampyang atau kerupuk aneka warna berbahan baku tepung dan cucur atau kue tradisional berbahan baku campuran tepung terigu dan tepung.[3] Ampyang melambangkan tameng atau perisai prajurit dan cucur lambang tekad manunggal atau persatuan.[3]Adapun bagian ketiga atau bawah gunungan disebut ancak atau penopang.[3] Ancak itu terdiri ancak atas yang menyimbolkan iman, ancak tengah simbol islam, dan ancak ba wah simbol ikhsan atau kebaikan.[3]